Posted in Experience, Security

Mas GO-Jak Bermodus

on Dec 01 2017 06:12

Bermula dari Empat Digit

Sore tadi. Ketika saya sedang perjalanan pulang, ada telepon. Tetiba si penelpon konfirmasi nama saya, "Benar ini dengan mas Hermawan?" Agak salah sih, tapi saya bilang iya. Lebih jauh dia kata dari GO-Jek dan bahwa akun saya mendapatkan hadiah Rp 2jt. Saya percaya? Enggak terlalu.

Saat itu, saya lihat nomornya, nomor biasa 08217770280. Tapi, saya lihat di dekat nomor itu ada tulisan GO-Jek, mungkin karena SMS yang kemudian bersamaan masuk, atau pikiran saya yang agak kemrungsung.

"Saya sudah kirimkan nomor validasi," katanya, "Anda bisa bacakan nomornya?"

Saya ragu. Itu kan nomor ketika kita login GO-Jek dikirimkan ke nomor kita. One-time password. Tapi sekali lagi saya ragu. Saya protes, "Ini nomor ndak boleh saya kasih tahu ke orang lain." Eh, dia sok GO-Jek, "Oh iya benar, di sana memang tertulis JANGAN BERITAHUKAN KE ORANG LAIN. Tapi kami dari GO-Jek, ini untuk melakukan validasi nomor Anda." Kira-kira begitu.

Lalu saya bacakan.. Saya punya udzur di sini, hehe: akun saya memiliki saldo di bawah 100rb, posisi saya sedang perjalanan, dan mungkin kurang tidur sehingga qadarullah, saya beritahu dia. Kemudian datanglah SMS berikutnya,

You LOGGED IN to your GO-JEK App from NEW DEVICE. ...

That's it! Ceklek, lalu putus.

Saya ngebut pulang: perlu cari Internet, telepon CS, selamatkan akun saya yang baru saja direbut Mas GO-Jak ini. Waktu itu saya yakin 99%, akun saya sudah jatuh ke tangan yang salah. Tapi ada telepon lain masuk.. saya berhenti.

Topup Dulu untuk Hadiahnya

"Tadi kenapa putus, Mas?" Dia lagi dan tawarannya sama, "... untuk mendapatkan hadiahnya, ada dua cara: lewat GO-Pay atau diambil cash di ATM. Karena promo, untuk mendapatkan hadiah saldo GO-Pay Anda minimal harus 300rb."

Oke, bagi saya dapat hadiah atau tidak, tak masalah. Tapi ada rasa 'eman-eman ketika gak diambil KALAU ternyata benar' yang membuat saya teruskan dialognya. Mas GO-Jak memberikan instruksi untuk ke ATM, wanti-wanti-nya juga gak ketinggalan, "Silakan ke ATM, biarkan telepon tersambung jangan putus. Hati-hati dengan penipuan kalau misalnya diminta transfer dulu, toh itu merugikan Anda."

Yang terakhir itu saya pegang, Mas, dan oke, saya akan berhenti ketika Anda suruh saya transfer, apapun. Tapi begitulah hati manusia. Ketika ragu, takut, tak mengerti, atau terlalu berharap, mudah sekali berubah.

"Saya sampai di ATM, Mas," saya agak shock, tangan jadi dingin. Saya ditepi jurang, sedikit salah saya kalah. "Masuk ke Informasi Saldo, agar kami tahu transaksi bisa dilakukan. Berapa saldonya, Mas?" Eh, kok tanya saldo. Memang, saya masih mahasiswa, saldo gak seberapa. Namun, itu seperti menjawab pertanyaan "di berangkas kamu emasnya seberapa" ke orang yang lewat depan rumah. "Saya gak mau bilang, ini gak ada hubungannya. Transaksinya bisa diteruskan walaupun Anda tidak tahu." Mas GO-Jak ikut, tidak protes.

Mungkin teman-teman berpikir saya sudah tidak percaya sama sekali. Tapi tidak, lawan saya bukan hanya Mas GO-Jak; tapi juga setan yang membisikkan agar mencoba barangkali dapat hadiahnya dan kemrungsungnya saya.

Enam Digit untuk Pintu Tersembunyi

Kemudian GO-Pay, dan di sinilah Mas GO-Jak bersandiwara, "Anda akan saya pandu untuk melakukan konfirmasi. Masuk ke menu pembayaran. Masukkan nomor 9003 kemudian nomor HP Anda."

Kalau ikut instruksinya, saya akan mentransfer nominal ke GO-Pay, pikir saya. Nah, saya tertekan. Mas GO-Jak punya akses ke akun saya, dia bisa jadi.. penipu! Saya sedikit ingat soal pencairan dana layanan seperti itu bisa ditransfer langsung ke rekening bank lain, kalau punya akses ke akun kita.

Masuklah saya ke tampilan nominal yang akan dikirimkan, "Sekarang Mas bisa masukkan pin 6 digit yang akan kami kirimkan." Nah, di sini dia keren, kedengaran seperti dari GO-Jek sungguhan. Tampilannya nominal yang akan di transfer, tapi minta diketikkan pin 6 digit: seperti ada pintu tersembunyi yang saya gak tahu.

Enam digit itu bisa mulai dari angka berapapun. Artinya, kalau dia penipu, saya bisa kehilangan sampai 900rb, wow! Walaupun, saya dapat angka depan 5.

Saya tidak percaya dan menanyakan kebenarannya, membuat ATM berkali-kali timeout. Namun, Mas GO-Jak dengan masih sabar memandu saya kembali ke tampilan nominal. Terakhir, dia sedikit frustasi, tapi masih cool. Timeout membuat saya punya waktu berpikir.

"Mas, saya masih gak percaya jenengan dari GO-Jek. Saya gak mau memasukkan pin-nya. Bukannya ini tampilan untuk mengirim uang."

"Astaghfirullah." Saya cuma berharap waktu itu dia menyesali dosa-dosanya. Dia mengulangi kalimat andalannya, "Kami dari GO-Jek dan ini cara agar kami dapat memasukkan hadiah ke akun GO-Pay Anda. Setelah Anda melakukannya, dana akan masuk ke akun GO-Pay Anda, jadi 2jt. Kalau Anda masukkan pin tersebut, nantinya akan menambah nominal GO-Pay Anda. Itu akun Anda sendiri, nomor Anda sendiri. Nanti akan masuk ke akun Anda."

"Tapi nominal di GO-Pay bisa jadi Anda cairkan setelah saya transfer nanti." Oke, saya memang to the point di sini, dan Mas GO-Jak mulai frustasi, mengulang kalimat di atas lagi dan lagi. Bahkan memberi opsi agar saya transfer 300rb saja, nanti nominal GO-Pay akan menjadi 2,3 jt.

Saya mulai berpikir jernih sehingga meminta waktu agar dihubungi lain waktu. Saya ingin validasi nomor yang menghubungi saya apa benar dari GO-Jek. Mas GO-Jak meyakinkan sampai-sampai membawa agamanya, "Saya muslim, Mas. Masak cuma gara-gara 300rb saya berbohong?!". Heyy, sehari Anda dapat 3 orang itu hampir 1 juta. Modal pulsa telepon hampir 1 jam ini pun tertutupi sekali dapat.

Bu Hj. Dewi

Saya minta waktu, untuk habis magrib telepon ulang. Waktu memang mahal, tapi kepercayaan di sini lebih mahal, kan? Dia menolak dan terus menolak, "Kalau Anda masih kurang yakin, saya hubungkan dengan Bu Dewi." Heh, sapa Bu Dewi ni? "Saya gak kenal Mas, memang siapa beliau?"

"Dia manajer keuangan GO-Jek, dia nanti bisa menjelaskan lebih jauh." Suasana sudah gelap, langit menguning, hampir maghrib. "Ya deh, coba," saya di sini 85% gak percaya, sisanya perlu Internet dan telepon CS!

Mohon maaf jika ada kesamaan nama dengan pihak GO-Jek. Tapi Bu Dewi di sini saya yakin bukan dari pihak perusahaan dan tidak mewakilinya. Bahkan mungkin bukan nama asli yang berbicara.

Bersuaralah seorang yang katanya Bu Dewi, lirih sekali tapi seperti suara laki-laki yang dibuat feminim. Oke, 89% kepercayaan hilang.

"Maaf kurang keras, Bu." Dan maaf, saya terdengar tidak sopan. Tapi saya merasa berbicara dengan orang yang sama dengan nama yang berbeda. Jadi suasananya masih sama: jengkel.

"Jadi, bagaimana tadi prosesnya?" Akhirnya terdengar. Jadi, mulai dari awal ternyata. Saya jelaskan dan meminta waktu untuk validasi. Katanya, nomor pin tadi akan di blok ketika lewat waktunya. Saya tetap memaksa, dan lumayan sengit. Sampai keceplosan bilang "Mas" haha :laughing:.

Sang Bu Dewi kehilangan wibawa, "Mas, saya ini haji tiga kali. Anda masih menganggap saya bohong?" Ups, dia membawa gelar haji-nya. Yaa Allah, ampunilah hamba jika pernah memamerkan ibadah atau beribadah dengan maksud duniawi. Berikanlah dia hidayah sehingga orang lain selamat dari makarnya.

Dia akhirnya memberi saya waktu 20 menit, "Nanti Anda akan saya blok kalau lebih dari itu. Tidak apa-apa?" Saya langsung menuju ke tempat Internet berada. Dan setelahnya, saya dibantu teman-teman untuk validasi.

Pada akhirnya saya mendiamkan teleponnya. Akun GO-Jek saya dibajak, diganti nomornya. Saldo masih di bawah 100rb, walhamdulillah. Tinggal memulihkan akun dan shock kena tipu.


abdillah